Ahimsa Marga Usiaku baru 8 tahun ketika ibu melarangku mbeksa.*) Padahal baru saja aku bisa naik kendi kosong, mengatur keseimbangannya sambil mbeksa dan memutarnya ke arah delapan mata angin. Tapi kegembiraan bisa menguasai Beksan Bondan, langsung dipupus oleh ibu. ” Ndhuk , mulai sekarang kamu tidak usah ikut latihan nari lagi di sana.” Aku tidak tahu alasannya. Toh kursus beksa itu tidak bayar. Lagipula, bukannya ibu yang mendorongku belajar mbeksa ? Ibuku dulu penari Gambyong*) di pendopo kewedanan, begitu bisik-bisik yang kutangkap dari kanan-kiri. Di situ Ibu bertemu laki-laki yang katanya adalah ayahku. Di kamarku ada potret laki-laki tak kukenal tetapi tak pernah mengusik keingintahuanku. Suatu hari sepulang sekolah, kulihat ibu bercakap-cakap dengan seorang laki perlente. Wajahnya halus, sedikit diangkat, menunjukkan dia berasal dari keluarga yang berbeda dengan kami. Ibu bersikap sangat hormat pada laki-laki yang dipanggilnya ”Ndoro” itu. Ketika melihatku, laki-l...