PRASETYOHADI Gerimis menyerpih dari pelepah kelapa tepi jalan menuju puncak Bukit Bulupitu. Langit barat memancar sinar matahari, mencipta pelangi di langit timur. Melengkung setengah lingkaran. Satu kaki pelangi tepat di puncak bukit. Saya melewati rel kereta tanpa palang, bertulis di kayu silang: awas kereta, satu sepur. Setengah berlari saya menuju puncak bukit, sebelum matahari turun. Mengintip dari balik semak, mau mencuri selendang bidadari turun mandi. ”Dewi Nawangwulan cantik molek penuh pesona. Hidung mancung pipi halus. Bibir kemerahan. Kerlingnya mampu menghentikan napas laki-laki. Pinggang ramping, pinggul sedikit lebar. Paha dan betis memanjang. Turun dari langit, persis di kolam taman sari.” Mbah Putri mengisahkan pada senja gerimis. Saya bergegas melompati batu-batu jalan. Melintasi perkebunan singkong dan mangga. Menyusup ke semak pagar kolam. Ah, mentari meredup. Kaki pelangi lenyap, tinggal seleret di puncak, para bidadari kembali ke langit. Senja merema...