Regina Rukmorini ”Anjaaaaarrrrrrr...!” Suara ayah memanggilku. Memutus konsentrasiku nonton film dari Youtube. Suara dengan nada jengkel. Aku mencoba tidak peduli. Namun, belum sempat mengeraskan volume suara, ayah lebih dulu meninggikan suaranya. Mau tidak mau, aku jadi terpaksa menoleh. ”Anjaaaaarrrrrrr…!” Suara ayah memanggilku. Memutus konsentrasiku nonton film dari Youtube. Suara dengan nada jengkel. Aku mencoba tidak peduli. Namun, belum sempat mengeraskan volume suara, ayah lebih dulu meninggikan suaranya. Mau tidak mau, aku jadi terpaksa menoleh. ”Mana adikmu? Mana Gilar? Mana Bani?” tanya Ayah lagi. Bau alkohol itu begitu menyengat. Aku menghela napas. ”Gilar sama Bani pergi ke toko depan gang. Tadi, kan, mereka disuruh beli rokok buat ayah,” ujarku. Aku membalikkan badan dan ayah menceracau menjauh. Ini sudah biasa. Sebentar lagi, dia pasti akan keluar lagi, menengok 5 kucing, 2 ayam, dan 7 ekor burung punya Eyang. Bergaya, bersiul-siul sambil menenteng kandang ayam dan burun...