Sandi Firly Membiru dan bau. Dada bolong—seperti matanya yang terbelalak kosong, tanpa jantung. Senja di kampung pinggiran hutan Meratus seketika riuh. Ini mayat kedua—satu minggu lalu juga ditemukan seonggok tubuh membusuk dengan kondisi yang sama. ”Hanya Anak Sima yang sanggup melakukan pekerjaan semacam ini,” ucap seorang kakek di tengah kerumunan warga kampung yang menutup mulut dan hidung. Orang-orang menoleh kepada kakek berpakaian lusuh dengan jenggot panjang memutih. Tidak banyak yang mengenalnya. Sebagian hanya tahu bila kakek itu berdiam seorang diri di atas bukit. Anak Sima, itu adalah kisah usang dan bahkan sebagian hanya menganggapnya karangan. ”Bagaimana Kakek yakin ini ulah Anak Sima?” tanya seorang pemuda. “Bukankah itu dongeng belaka?” Tatapan orang-orang beralih dari mayat—yang mulai mengundang lalat-lalat hijau besar datang. Mereka menunggu kakek bicara. ”Tidakkah kalian lihat bagaimana kondisi mayat ini?” cetus kakek. ”Tidak ada beruang, atau binatang ...