Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Martin Aleida

Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus

MARTIN ALEIDA Dia duduk mencangkung di pelataran kamp itu. Bersama puluhan tahanan lain. Menunggu pembebasan. Bersandal jepit. Angin dan terik matahari menyentakkan debu ke mukanya. Dia tak peduli. Di antara pahanya, terapit buntalan sarung pelekat yang luntur dibasuh waktu. Di dalamnya ada sehelai baju tetoron biru lengan pendek, kenang-kenangan dari kawan yang dibuang entah ke penjara mana, beberapa tahun lalu. Juga sepotong celana pendek hitam yang ditemukannya hanyut, dan dijangkaunya dari arus ketika kerja paksa di Sungai Silau. Itulah harta yang dia punya setelah tiga belas tahun ditendang dari kurungan yang satu ke bui yang lain. Kalau tamsilnya lubang jarum, lubang yang dia lalui sepanjang hidupnya adalah lubang jarum berduri. Berapi. Setelah disekap sehari-semalam, dia, dan beberapa orang, dijajarkan di tubir Sungai Ular, tiga belas tahun lalu. Kedua tangan mereka disilangkan di belakang, diikat pelepah pisang. Dibentak supaya menghadap ke sungai. Disusul dentuman mesiu...

Ziarah Kepayang

Martin Aleida Lima puluh tahun…! Rentang waktu sepanjang itu tak membawa perubahan di sini. Jembatan yang terbuat dari kayu besi, masih tegak seperti yang kukenal setengah abad lalu. Hitam legam. Penduduk yang akan membawa hasil bumi ke kota, sejauh tujuh kilo, di muara sungai, tetap harus mengalah. Menunggu air sungai surut supaya sampan yang sarat bisa melintas di kolong jembatan. Jalan diapit sungai kecil, yang kami sebut bendar, tetap seperti ketika kulewati dulu. Jalan di mana orang-orang Tionghoa dari kota datang di musim berburu, dan pulang memanggul babi hutan yang masih berlumuran darah, hasil buruan yang ditinggalkan begitu saja oleh orang kampung yang mengharamkannya. Juga uangnya! Di jalan ini aku pernah terjerembab ditindih gerimis, mencium tanah, dalam perjalanan berkilo-kilo bersama Abang menuju pasar malam. Bau tanah liat di tapak kakiku masih seperti lima puluh tahun lalu. Aku menyeberangi titian. Berhenti, merenung di depan gundukan tanah. Kata Emak, seminggu...