Putu Oka Sukanta Frankfurt Oktober, diramaikan dedaunan yang bagaikan pemain sandiwara sibuk berganti pakaian warna-warni yang berubah-ubah. Angin bergurau dengan helai rambut yang tak tertutup topi, berjuntai di tepi telinga ketika aku berjalan cepat menuju rumah. Semalam, sebelum tidur, aku sempat menyingkapkan kain tirai jendela untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar. Cahaya lampu jalanan dan angin menderu menampilkan bayang-bayang menari bergoyang, tarian pepohonan yang dipadu suara nyanyian alam masih bisa kudengar sayup-sayup menembus celah daun jendela. Sore hari aku masih melihat seluruh pohonan bergaun hijau, tetapi sekarang sebagian sudah berbaju kekuningan. Sebagai anak petani yang datang dari negeri dipanggang matahari, aku tertegun dalam kenikmatan. Apalagi beberapa puluh tahun yang lalu, ketika pertama kali menengadahkan telapak tangan menampung butir-butir salju beterbangan dari langit kelabu. Mbak Ntin sudah keluar dari selimutnya, tempat tidurnya s...