Novka Kuaranita Malam itu ia mampir ke kios bunga. Tiga blok ke arah timur dari Stasiun Shin-koenji. Tiga tangkai shiragiku, katanya. Lelaki itu meminta krisan putih. Ia telah merencanakan segala sesuatunya. Sembilan Agustus 2018. Krisan putih dan sampai apartemen sebelum jam delapan. Makan malam dan berbincang-bincang. Ia mengintip jam tangan di balik lengan kemeja, pukul 19.50. Dari kios itu, apartemennya sudah tampak. Lantai kelima, unit paling kiri. Lampu ruang tengah telah dinyalakan; jendelanya berpendar kuning pucat. Lelaki itu menekan bel apartemennya sendiri. Deringnya janggal, entah karena ia tak terbiasa mendengarnya dari luar sini atau lantaran sudah kelewat lama tak berbunyi hingga terasa asing. Dari tempatnya berdiri itu, ia juga menangkap suara beradu alat-alat makan dari kayu. Air keran yang mengucur lalu berhenti. Sesuatu yang dibereskan. Sebelum tapak-tapak kaki bergerak mendekat. Seorang perempuan membuka pintu sambil mengatakan rupanya kau sudah pulang. Ia...