Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Dewi Ria Utari

Melarung Bapak

Dewi Ria Utari ”Kamu harus mendukung pendapatku ketika nanti sampai di rumah. Jangan lupa itu.” Suara kakak pertamaku mengisi kepalaku dan bermukim di sana, bahkan ketika aku terlelap di sela-sela penerbangan 16 jam 45 menit dari Praha ke Jakarta. Sia-sia aku menenggak anggur putih dan merah yang kerap kuminta kepada pramugari untuk membuatku terlelap. Karena setiap kali kantuk dan alkohol memberatkan mataku, sembari terpejam, suara kakakku itu terasa berdenging terus-terusan di kedua telingaku. Membuat kegelisahanku memuncak dan berhasil mengalihkan pikiranku dari kematian Bapak. Bapak meninggal. Teks itu kuterima di jaringan Whatsapp di ponselku saat aku tengah minum Velkopopovický Kozel di sebuah bar kecil di daerah Kozy Street. Dengan bergegas, aku membayar tiga gelas besar Velkopopovický Kozel dan menelepon kakakku yang mengirim teks itu. Aku menyanggupi usulnya untuk segera memesan tiket pulang dan bertanya kapan Bapak akan dimakamkan. ”Nunggu semuanya pulang dulu. Lagi pu...

Di Dalam Hutan, Entah di Mana

Dewi Ria Utari Aku tumbuh dengan sebuah larangan yang kudengar sejak aku memahami kata-kata. Sebuah larangan yang menetapkan bahwa seluruh kerabatku dan siapa pun yang masih segaris darah dengan nenek buyutku, untuk tidak memasuki hutan yang berada di pinggir desa tempat aku dan keluargaku hidup. Hutan itu mungkin terdiri dari berbagai macam pepohonan dan tumbuhan. Aku tak pernah yakin karena aku hanya berani sampai di batas luar hutan itu yang ditandai dengan sebuah lapangan rumput seluas kira-kira selapangan sepak bola, untuk memberi jarak dengan perkebunan bermacam-macam milik beberapa warga desa. Aku sebut bermacam-macam karena memang mereka menanami kebunnya dengan bermacam-macam tanaman secara bergantian. Tergantung musim dan tergantung mana yang harganya tengah bagus di pasaran. Sering kali penduduk di sini menanaminya dengan jagung, kedelai, sayur-sayuran seperti kacang panjang, hingga tembakau. Keluargaku juga memiliki sebagian lahan kebun, namun karena sudah tak ada la...