Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Seno Gumira Ajidarma

Budak Cinta

SENO GUMIRA AJIDARMA Ia hanya kelihatan matanya. Apakah yang bisa dilihat dari sepasang mata yang setiap kali mengerjap melesatkan pesona dunia? Begitulah pesona melesat dari mata yang dipandang untuk menelan mata yang memandang, yang langsung terpukau dan langsung terpana bagai tersambar kilau cahaya surga, yang membuat diri dan segala kehendak hilang lenyap menghablur, menyisakan tubuh tanpa pikiran selain penyerahan dan kerelaan dalam cita-cita untuk diperbudak dalam persembahan jiwa. ”Sudah, jangan mematung seperti itu,” kata istrinya, “mari kita pulang.” Namun, dia tidak mengenal lagi kata pulang. Hilang sudah rumah, hilang sudah istri, hilang pula keluarga. Hilang segala celoteh ceria kanak-kanak yang telah mengisi hidupnya seperti empasan ombak mengisi kesunyian semesta. Dia tinggalkan istrinya yang ternganga, yang sempat meraih lengan hanya untuk dia sentakkan, yang hanya bisa memandang lelaki yang selama ini menjadi suaminya, bapak anaknya, lenyap di antara kerumun...

GoKill

Seno Gumira Ajidarma Jika ingin membunuh seseorang, kontaklah GoKill. (iklan di media sosial) Tahukah dikau rasanya membunuh seseorang yang sedang makan lalampa pada gigitan pertama, tepat ketika potongan ketan berisi ikan itu melewati tenggorokannya? Aku tahu rasanya, karena akulah yang membunuhnya. Tentu ia sempat mengunyah sebelum menelannya, jadi ia sudah tahu rasa lalampa, gurih dan sedikit pedas. Bagiku itu cukup. Ia sudah menikmatinya. Setelah itu ia boleh mati. Saat itulah peluru yang kutembakkan menembus pelipis kirinya untuk keluar lagi dari pelipis kanan. Ketika nyawanya pergi potongan lalampa itu mungkin sudah sampai ke perutnya. Jika petugas forensik membedahnya akan berkesimpulan, ”Ada ketan, ada ikan pedas, sebelum mati korban telah menelan potongan pertama lalampa.” Pasti akan cocok dengan sisa potongan di lantai yang masih empat perlimanya, masih terbungkus daun pisang yang sedikit gosong, mudah-mudahan tidak ada petugas yang berpikir mungkin itu masih...

Gelap

SENO GUMIRA AJIDARMA Ketika listrik mati dan ruangan mendadak jadi gelap, ia seperti mendengar suara jeritan seorang perempuan yang panjang, yang kemudian terus-menerus berulang, tanpa bisa diketahui asalnya. Jeritan siapakah itu? Dalam gelap, ia tidak dapat melihat apapun, dan hanya mendengar jeritan yang panjang. Seperti jerit ketakutan, pikirnya dalam kegelapan. Mengapa perempuan itu ketakutan? Apakah seperti dialaminya sekarang, betapa dalam gelap tiada sesuatu pun yang dapat dilihat, membuatnya merasa terlontar ke sebuah dunia yang hanya hitam, sehitam-hitamnya hitam, sampai tiada apa pun dapat dilihatnya, bahkan tangannya sendiri tiada dapat terlihat? Kegelapan memang hanya hitam, membuat tembok hilang, langit-langit hilang, lantai hilang, memberinya perasaan melayang sendirian. Namun jerit ketakutan itu terdengar semakin jelas. Dalam kegelapan, suara-suara tentu hanya akan semakin jelas, tetapi yang semakin jelas sekarang adalah ketakutannya. Ta-kut. Jerit ke...