Langsung ke konten utama

Postingan

Cengkung

Adam Yudhistira Ketenangan pagi di kampung Lubuk Tampui serentak pecah oleh teriakan keras Mat Boneh. Lelaki bujang tua itu berlari tunggang langgang dari arah sawah Tanjung Raya. Wajahnya pucat pasi seperti baru berjumpa hantu kesiangan. Seperti orang gila, ia menjeritkan warta yang membuat puluhan butir kepala bermunculan dari balik pintu dan jendela. ”Ada orang mati tergantung! Ada orang mati tergantung!” ”Di mana? Di mana?” tanya orang-orang yang bergegas menghampirinya. ”Tergantung di pohon kepayang dekat sawah Mang Saleh!” jawab Mat Boneh terbungkuk-bungkuk dengan napas tersengal-sengal. Sekejapan, berbondonglah orang-orang menuju tempat yang dimaksud. Setibanya di sana tampak di dahan pohon kepayang tua yang tumbuh di dekat pondok milik Mang Saleh, sedikit terlindung oleh gerumbul daun-daun, sesosok mayat perempuan berayun-ayun memilukan. Melihat pemandangan itu, bukannya menolong, orang- orang malah menjauh. Tidak ada lagi keriuhan. Kerumunan berangsur menyusut begitu saja. Han...

Hujan yang Hangat

Tedy Heriyadi Hujan seperti inilah persis di saat kau terlahir ke dunia ini dengan tangisan yang membentuk paduan suara bersama gemercik air yang jatuh. Dalam tangis, kau merasakan kehangatan ketika hujan dalam pangkuan ayahmu yang berbisik tepat di samping telinga kananmu.”Varsha Agnimaya.” Kutulis surat ini ketika jatuhnya bulir-bulir hujan ke bumi. Doa pun tak lewat kusampaikan kepada tuan semesta agar kau selamat sentosa. Kau akan menjadi perempuan yang berjasa bagi masyarakat dan bisa menghangatkan suasana hati seseorang yang dingin, termasuk aku sekarang. Hatiku dingin. Aku ditemani oleh sepi yang dingin. Apalagi kini hujan semakin mendinginkan hatiku dengan kesepian yang dingin. Dinginku bertambah dingin. May! Hanya dengan mengingatmu saja hatiku hangat dan damai. Aku bisa tersenyum membayangkanmu meski saat hujan dan sepi seperti sekarang. Mungkin akan lebih manis apabila kau kupeluk menjelang tidur malam. Aku ingin memelukmu sambil bercerita dongeng atau kisah-kisah masa lalu ...

Mek Mencoba Menolak Memijit

Rizqi Turama Karena sudah tiga hari berturut-turut mendapatkan mimpi yang sama, Mek memutuskan untuk bercerita perihal mimpi tersebut pada sang suami. Tentang lelaki berpakaian putih-putih yang mengatakan bahwa Mek akan jadi tukang urut, kemudian menyentuh bahu kanan Mek. Pagi harinya, saat sang suami sudah duduk di kursi reyot, lelaki dengan tubuh ringkih itu hanya manggut-manggut mendengarkan cerita Mek. Menarik napas dalam-dalam. Lalu kembali menyeruput kopi. ”Bagaimana, Pak?” Mek mengejar. ”Apanya yang bagaimana?” ”Mimpiku itu, lho.” ”Ya sudah. Namanya juga mimpi.” ”Tapi sudah tiga kali, Pak.” Suami Mek kembali menyeruput kopi. ”Pak?” Suami Mek menghela napas panjang. ”Pak?!” ”Apa sih, Bu? Itu kan mimpi. Kenyataannya aku sudah tiga kali ditolak kerja di tempat orang. Garap lahan Pak Minto juga sudah tidak bisa lagi. Kamu malah bahas mimpi.” Mek diam. Menatap lantai rumah. Hingga tiga bulan lalu, suami Mek masih bisa menggarap lahan Pak Minto. Lahan itu se...

Minuman buat Para Penyair

Gunawan Maryanto Sederhananya, manusia terdiri dari 3 jenis: penyair baik, penyair buruk, dan bukan penyair. Dan ini semua memang bermula ketika dunia masih begitu sederhana. Ketika dua elang raksasa saling berkejaran di langit yang masih begitu muda. Perang besar antardewa baru saja selesai atau mesti diselesaikan. Jika tidak perang, itu tak akan selesai dan Anda tak akan bisa membaca cerita ini, hari ini. Kaum Aesir, rombongan dewa- dewa yang galak, keras kepala, dan suka berperang, melawan para Vanir, dewa-dewa yang lembut hati, senang bersahabat, penyubur tanah dan tanaman. Aesir biasanya dengan mudah—kadang juga tidak mudah—mengalahkan lawan-lawannya: para raksasa, serigala, naga, juga dewa-dewa lain. Tapi, tidak kali ini. Berhadapan dengan dewa pujaan para petani dan pencinta lingkungan, mereka akhirnya memilih berdamai. Bukan karena mereka tidak suka berperang lagi. Tapi, mereka butuh kemenangan. Atau kekalahan. Perang tanpa kemenangan atau kekalahan seperti malam panjan...

Nanaimo, yang Jauh di Sana

Sori Siregar Nanaimo. Sebuah kota kecil di Kanada. Di sanalah Lili sekeluarga bermukim. Tidak tahu untuk berapa lama. Dengan menggunakan telepon seluler Sutana mengamati foto-foto lama Lili dan teman-temannya di kampus Vancouver Island University di British Columbia tersebut. Ia bangga sekaligus merindukan putrinya itu. Sudah lima tahun Lili, suaminya Arie, dan kedua anak mereka, Kafka dan Nares bermukim di negeri orang itu. ”Kapan kalian pulang?” Pertanyaan itu sering dilontarkan Sutana di surelnya, karena Lili telah selesai pendidikan master-nya setelah berdiam dua tahun di kota kecil, di pantai timur Pulau Vancover itu. Belakangan pertanyaan itu tidak diulangi Sultana, karena Lili telah mengutarakan niat mereka untuk menjadi penduduk tetap di negeri empat musim itu. Penduduk tetap, hanya setingkat di bawah warga negara. Niat untuk pulang kampung pastilah semakin menipis, karena pilihan itu. Tapi, apakah status itu akan semudah itu memperolehnya? Ia tidak dapat mengungkapk...

Budak Cinta

SENO GUMIRA AJIDARMA Ia hanya kelihatan matanya. Apakah yang bisa dilihat dari sepasang mata yang setiap kali mengerjap melesatkan pesona dunia? Begitulah pesona melesat dari mata yang dipandang untuk menelan mata yang memandang, yang langsung terpukau dan langsung terpana bagai tersambar kilau cahaya surga, yang membuat diri dan segala kehendak hilang lenyap menghablur, menyisakan tubuh tanpa pikiran selain penyerahan dan kerelaan dalam cita-cita untuk diperbudak dalam persembahan jiwa. ”Sudah, jangan mematung seperti itu,” kata istrinya, “mari kita pulang.” Namun, dia tidak mengenal lagi kata pulang. Hilang sudah rumah, hilang sudah istri, hilang pula keluarga. Hilang segala celoteh ceria kanak-kanak yang telah mengisi hidupnya seperti empasan ombak mengisi kesunyian semesta. Dia tinggalkan istrinya yang ternganga, yang sempat meraih lengan hanya untuk dia sentakkan, yang hanya bisa memandang lelaki yang selama ini menjadi suaminya, bapak anaknya, lenyap di antara kerumun...

Sekuntum Bunga Marigold dari Chiang Mai

Ni Komang Ariani Mimpi yang berulang. Bunga Marigold. Candi-candi keemasan berubah warna menjadi merah. Patung setengah manusia dan setengah burung yang bisa bergerak-gerak seolah hidup. Memilin-milin dan tumpang tindih dalam mimpiku sepekan ini. Alur ceritanya semakin lama semakin ganjil. Bahkan kadang tanpa alur cerita sama sekali. Bunga marigold. Candi-candi berwarna kemerahan. Patung manusia berkepala burung. Hanya itu yang bisa aku ingat dengan jelas. Selain sebuah jejak perasaan yang mengganjal bersamanya. Perasaan sedih dan marah sekaligus. Seperti ada seseorang yang telah berbuat curang, dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Tak berdaya. Kedua tanganku seperti dirantai, untuk menonton. Tanpa mampu berbuat apa pun. Mungkinkah karena aku telah kelewat menjejali pikiranku dengan segala informasi tentang candi-candi di Thailand? Tentang Doi Suthep, Wat Phrasing, Wat Chedi Luang, Wat Umong, dan lain-lain. Mungkinkah kepalaku meledak karena timbunan informasi dan alam bawah sadar...