Langsung ke konten utama

Postingan

Wakyat

Putu Wijaya Bu Amat tiba-tiba menodong suaminya. ”Sejatinya Wakyat itu siapa, Pak?” Amat tertegun. Berpikir, lalu menggeleng. ”Bapak tidak tahu.” ”Ah, masak tidak? Kita kan yang memilihnya?” ”Memilih? Memilih siapa?” ”Wakyat.” ”Siapa dia?” ”Pilihan kita, kan!” ”Kita siapa? ”Kita yang memilih!” ”Kita ini?” ”Ya dan tidak.” Amat ketawa. ”Ibu ini dulu kan guru bahasa indonesia, sekarang kok bahasanya mundur sekali! Ngomongnya yang bener , dong! Jangan seperti orang bingung. Ya, ya, ya! Tidak, ya, tidak. Tidak bisa ya dan tidak.” Bu Amat tersenyum. Amat berdiri mau cari angin di teras. ”Tunggu dulu, Bapak belum menjawab itu karena tidak tahu atau setuju?” ”Ya dan tidak!” Bu Amat cemberut. Amat ketawa besar lalu ke teras. Tapi belum sempat duduk, pikirannya seperti menyengat. Ia cepat kembali masuk. ”O, maksud Ibu….” Tapi Bu Amat sudah ngeloyor ke dapur. Amat jadi penasaran. Ia sekarang ingat sama Pak Wakyat. Orang itu sempat dipilih oleh penguru...

Malam Laksmita

S Prasetyo Utomo Tengah malam, dalam pulas tidur, Ayah mengigau, ketakutan, serupa diburu setan. Berteriak-teriak. Tak jelas benar kata-kata yang diteriakkan. Menampakkan rasa ngeri. Laksmita pernah bertanya pada Ayah, mimpi apakah yang selalu menghantuinya. Ayah tak pernah memberi tahu peristiwa mimpi yang senantiasa mencekam tidur malamnya. Ayah seorang preman, melarikan diri dari pembantaian penembak misterius. Sejak dalam pelarian ke lereng Gunung Merapi, Laksmita, kelas dua sekolah dasar, selalu mendengar teriakan-teriakan ketakutan dalam mimpi Ayah. Bertahun-tahun kemudian Laksmita tumbuh sebagai gadis, terus didengarnya tiap tengah malam, igauan ketakutan. Ayah yang lumpuh, dan selalu terbaring di tempat tidur, menyisakan kengerian masa silam dalam mimpinya. Meninggalkan lereng Gunung Merapi, kembali menempati rumah tua di pinggir kota Yogya yang sepuluh tahun lebih ditinggalkan, Laksmita merasakan hal yang merisaukan. Ayah terus mengigau tiap tengah malam. Laksmita tak...

Kari Mak Qori

Ayi Jufridar Sebagai komandan gerilyawan yang disegani, dada Pang Min terasa membara ketika mengetahui Mak Qori memberi makan tentara musuh sebanyak tiga kali sehari, 21 kali dalam sepekan, atau 90 kali sebulan. Perbuatan terlarang itu sudah berlangsung selama dua bulan dan baru diketahui pada pekan pertama bulan ketiga. Pang Min murka kepada Mak Qori sekaligus anak buahnya yang tidak melaporkan kejadian itu pada kesempatan pertama. ”Coba bayangkan, sudah berapa piring nasi dan lauk yang disumbangkan kepada musuh. Dari makanan yang mereka santap itu, mereka dapat tenaga, otak mereka bisa berpikir untuk menyiksa kita. Berapa banyak saudara kalian dibunuh dengan tenaga yang mereka dapatkan dari makanan yang dimasak Mak Qori. Dan kalian membiarkan saja itu terjadi! Berbulan-bulan!” Pang Min memiliki sepuluh regu gerilyawan. Kekuatan setiap regu berbeda, demikian juga persenjataannya. Satu regu terkadang berjumlah 10 orang, terkadang hanya lima saja, tergantung kebutuhan, situasi,...

Dolag Melukis Tuhan

Supartika Si tua bangka Dolag menaruh kanvas lukis berukuran 90 x 50 sentimeter di atas potongan kayu yang disandarkannya pada tembok. Ia pandangi kanvas itu sebelum akhirnya menyeringai, memperlihatkan giginya yang ompong di bagian depan dan sisanya berwarna kuning kehitaman. Kumisnya yang memutih sedikit terangkat, maklum kini ia telah memasuki usia kepala tujuh. Dolag beranjak ke meja yang berada di dekat pintu, mengambil dua kaleng cat warna merah dan hitam serta tiga buah kuas dengan ukuran bervariasi. Duduk di depan kanvas, menaruh cat, dan ia kembali menyeringai sambil membayangkan sesuatu yang akan muncul dari kanvas di depannya jika tangannya telah mulai menggoreskan kuas berisi cat. Perlahan dan pasti ia buka tutup kedua kaleng cat itu dan tutupnya ditaruh di samping masing-masing kaleng cat dengan kondisi tengadah. Cat merah ia tuangkan pada tutup kaleng yang kemudian disusul dengan cat hitam. Ia ambil kuas yang berukuran sedang dan mulai mencelupkannya pada cat merah...

Anak Mercusuar

Mashdar Zainal Ayahku sebuah mercusuar di dekat dermaga. Mercusuar tua bertubuh jangkung, berkemeja putih, dan bertopi coklat tahi karat. Ketika malam sorot matanya masih bekerja dengan baik, menyala dan menelanjangi semesta pantai: kapal-kapal yang berayun di tepi dermaga, para nelayan berkalung sarung yang sibuk membetulkan mesin, sepasang kekasih yang duduk saling merapat di sebuah bangku panjang, seekor kepiting yang kehilangan ibunya—yang merangkak gegas meninggalkan garis-garis tipis di atas pasir. Ayahku sebuah mercusuar di dekat dermaga. Kakinya tak pernah mengenakan alas. Hanya menapak bebas di atas batuan cadas. Anak-anak kepiting dan binatang-binatang kecil tanpa nama selalu suka bersembunyi di bawah kakinya. Menggelitikinya sepanjang waktu. Namun ayah tak pernah tertawa, alih-alih beranjak dari tempatnya. Karena ayah adalah sebuah mercusuar. Dan sebuah mercusuar harus menyepakati dua sumpah, yang pertama ia harus teguh berdiri di tempat yang ditentukan, dan kedua i...

Kematian Seorang Penerjemah

Wawan Kurniawan Dia tidak akan meneguk racun itu bila peristiwa kemarin tak terjadi. Seminggu sebelumnya, di dalam mimpinya– seorang perempuan berbaju merah dengan rambut panjang sebahu datang menghampirinya di sebuah tepi pantai yang asing baginya. Tanpa sempat melihat wajahnya dengan jelas, perempuan itu langsung memeluknya dari belakang. Begitu erat hingga tulang-tulangnya serasa ingin remuk. Saat mendengar bunyi retak disertai kesakitan yang tak terkira, barulah dia terbangun. Dilihatnya jam dinding masih menunjukkan pukul tiga lewat empat puluh dua menit. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar. Dia putuskan untuk kembali memejamkan mata dan sama sekali tak mengingat apa yang terjadi di mimpinya. Tapi rasa sakit di bagian belakangnya terasa hingga dia harus beberapa kali mengubah posisi tidurnya. Dia berhasil tidur dan bangun pada pukul sepuluh pagi. Biasanya, dia bangun di siang hari setelah begadang menerjemahkan beberapa naskah yang ada di laptopnya. Rasa sakit di bagian bel...

Semangkuk Perpisahan di Meja Makan

Miranda Seftiana Ibu saya bilang perempuan harus bisa memasak. Setidaknya satu menu sepanjang hidupnya. Saya merasa tidak setuju, terlebih ketika hidup sudah nyaris-nyaris mirip di surga urusan lapar dan makan. Betul. Semasa kecil, saya sering didongengi ibu. Katanya hidup di surga itu nyaman sekali, tinggal tunjuk langsung jadi. Mau anggur akan diantar ke hadapan. Mau minum dan makan juga demikian. Bukankah sekarang zaman juga sudah begini? Haus dan lapar tinggal buka ponsel. Hanya perlu satu jari untuk membuatnya ada di depan mata. Lalu, mengapa harus susah payah memasak segala? Bukan. Bukan saya tidak pernah memasak sama sekali. Saya pernah merebus mi instan, menggoreng telur, atau beberapa hal lain untuk bertahan hidup. Lebih-lebih ketika masih mahasiswa dulu. Tapi ini berbeda. Memasak yang dimaksud ibu saya bukan sekadar bisa, melainkan memang lihai sebab akan memengaruhi rasa. Sekali lidah harus langsung enak terasa sehingga sampai sajian tandas di piring kenangan baiklah yang te...