Langsung ke konten utama

Perihal Tanda-tanda

Wisnu Sumarwan


Aku selalu penasaran bagaimana nenekku bisa selalu benar tatkala menduga bahwa kematian akan datang pada suatu malam, pagi, siang, petang atau dini hari.

Pertama kali aku mengetahui bakat semacam itu adalah saat nenek berkata bahwa seorang yang dekat tapi jauh akan pergi bersama orang-orang asing yang tak diketahui selain nama mereka. Pamanku yang termuda mengatakan bahwa seluruh orang dekat kami berkumpul dekat-dekat saja, tiada yang jauh, jadi tidak akan ada orang mati. Empat bulan kemudian paman termuda itu mati saat kapal laut yang ditumpanginya menuju perairan Filipina lenyap ditelan badai. Ia baru bekerja sebagai seorang mualim kapal ikan. Kami semua sudah lupa bahwa nenek pernah mengatakan tentang itu sebelumnya.

Berikutnya, enam bulan sebelum kakek meninggal, nenek berkata bahwa akan ada pergantian kapten kapal karena kapten yang lama harus segera berpindah kapal, burung-burung akan mengiringinya. Lagi-lagi, tiada satu pun anggota keluarga kami yang bekerja di kapal selain paman termuda yang telah meninggal lebih dulu dan dia bukan kapten. Ternyata, benar terjadi pergantian kapten dalam bentuk seumpama. Saat lebaran, kapal besar keluarga kami tak lagi berkumpul di rumah kakekku sebagai tetua yang tertua dan ganti berkumpul di rumah adiknya yang sejak itu jadi orang tertua di keluarga sepeninggal kakek. Lagi-lagi, kakek meninggal saat kami sudah lupa bahwa nenek pernah berkata sesuatu tentang itu. Kakek meninggal ketika membeli makanan burung di seberang pasar. Kami bilang ia meninggal dalam damai, yang lain bilang kalau kakek meninggal begitu saja tanpa tanda-tanda.

“Kehidupan adalah menanak nasi,” ucap nenek saat upacara kematian ibuku sedang berlangsung, “tak tercium wanginya sampai sesaat menjelang harus diangkat, bau kematian adalah nasi yang hampir tanak.”

Kematian di sini memang selalu wangi, penuh bunga-bunga dan cacahan daun pandan yang ditebarkan dalam peti atau keranda. Mungkin, untuk menutupi bau mayat yang bisa mengungkit kesedihan. Atau, supaya kematian tidak cuma berwarna hitam.

Aku berusaha mengingat kata-kata nenek seperti kamus mengingat lema, namun tetap saja di saat-saat terakhir selalu saja terlupa sampai ada seorang kerabat yang meninggal. Mungkin, karena otak tak sudi mengingat-ingat kematian. Lalu aku ingat bahwa nasi yang sedang dimasak sudah mulai tanak, baunya bisa tercium, terasa segar dan baru. Seperti inikah bau kematian? Nenek hanya mengernyitkan bibirnya sambil mengangkat dandang dari atas tungku kayu kemudian memindahkan nasi setengah matang ke dalam kukusan bambu untuk sekali lagi dimasak dengan cara diuapkan di atas air panas yang menggelegak. Wanginya menyebar.

“Sudah, nenek tak usahlah repot di dapur,” ujar seorang kerabat, “biar kami saja yang mengurus makanan.”

Namun nenek berkeras untuk tetap berada di pawon dengan alasan: inilah kali terakhir ia bisa memasak untuk putrinya tercinta–ibuku. Tak ada sedikit juga raut kesedihan di matanya, mungkin karena ia sudah lebih dulu tahu perihal kematian itu. Ia juga pasti sadar kalau nasi yang ia masak pada kenyataannya takkan pernah dimakan oleh putrinya, melainkan masuk ke perut orang-orang yang cuma melayat mayatnya, banyaknya bukan orang yang akrab. Tapi, bukan itu masalahnya. Nenek tetap menganggap bahwa kerepotannya ini (yang ia anggap tidak merepotkan) adalah untuk putrinya sebagaimana sebelumnya ia telah memasak nasi untuk suami dan putra bungsunya saat mereka meninggal.

Memasak nasi adalah mengolah kehidupan. Mungkin, pikir nenek hingga tak berhenti memasak nasi meski sedang berdiri di hadapan kematian suami atau anaknya.

Sebaliknya, aku takut pada saat-saat begini. Nenek akan mulai meracau tentang tanda-tanda kematian seseorang yang tak diketahui, lalu berikutnya aku lupa.

Aku takut kalau aku lupa bahwa ia pernah berwasiat tentang tanda-tanda. Aku tak takut jadi tua, tapi aku takut jadi tua dan pikun hingga melupakan perihal tanda-tanda. Apakah saudara-saudaraku takut jadi pikun juga? Sepertinya tidak. Mereka lebih takut pada kematian dibanding kepikunan. Menurutku, kepikunan bisa lebih berbahaya dari kematian. Manusia disebut sebagai manusia karena kelahiran dan ingatan-ingatannya. Tanpa ingatan, manusia takkan mengetahui apa-apa tentang siapa dirinya. Manusia yang tak punya kenangan atas dirinya, masihkah bisa disebut manusia? Atau mayat hidup saja layaknya.

Kerabat-kerabat–walau iba pada nenek yang bekerja keras memasak saat ada saudara meninggal, juga enggan untuk berada dekat-dekat, sebisanya menjaga jarak. Rupanya mereka begitu khawatir pada racauan nenek perihal tanda-tanda yang hampir tak pernah meleset (aku tak ingat kapan racauannya pernah meleset). Mereka bersyakwasangka tentang siapa yang dimaksudkan dalam ucapan itu. Bisa ayah mereka, ibu, paman, adik, kakak, atau diri mereka sendiri. Sehingga, ketika hanya aku yang cukup berani dekat-dekat nenek dalam jangka waktu lebih lama, akulah yang jadi sasaran pertanyaan-pertanyaan mereka. Rahasia kematian selalu jadi sumber rasa penasaran, bagaimanapun ditolak kehadirannya.

“Nenek bilang apa? Siapa yang akan mati berikutnya?”

“Nenek takbilang apa-apa,” jawabku, “lagi pula, mana pernah dia menyebut nama.”

“Iya, tapi tak mungkin ia tak bilang apa-apa. Pasti kau yang tak peka terhadap ucapannya,” balas sepupuku.

“Sungguh. Nenek memang tak mengucapkan apa-apa. Paling tidak, belum.”

“Kau menutup-nutupi saja karena kau sebenarnya tahu dan tak mau kami khawatir.”

“Tidak.”

“Ayolah, ceritakan.”

“Tidak ada yang bisa diceritakan. Kalau kalian mau dengar ucapannya, kenapa tak dekat-dekat nenek saja?”

Baru mereka semua diam dan aku kembali ke pawon menemani nenek bekerja.

Rapal doa-doa adalah suara lebah dalam sarang yang berdengung-dengung. Lalu nenek meracau lagi.

“Sebenarnya, beras sudah jadi nasi, tinggal dihidangkan. Perjalanan sudah selesai. Kita mulai makan, kemudian yang kita ingat berikutnya rasa nasi saja. Beras yang sudah jadi nasi kemudian keluar dari perut, jadi tai yang dimakan lele. Kehidupan tak berhenti pada kematian, melainkan jadi kehidupan yang lain. Saat waktunya tiba, kita lupa pada nasi yang baru saja kita makan, atau beras.”

Benarkah nenek bisa lupa pada kematian orang-orang yang dicintainya? Aku tak bisa membayangkan apa rasanya jadi nenek yang terus menua sambil menyaksikan suami dan anak turunannya mati satu per satu. Usianya sudah lebih dari sembilan puluh tahun–nyaris seratus, kurasa–dan nasinya tak tanak juga, sementara nasi yang lain sudah selesai dihidangkan. Apa rasanya jadi dia? Aku tak mengerti.

“Menyedihkan rasanya,” ucap nenek, “seperti melahirkan kematian. Dan lebih menyedihkan lagi ketika semua itu tak bisa ditolak. Pasrah saja kita bisanya.”

Untuk banyak hal, ingatan nenek masih tajam, namun saat ia berbicara kematian ia seperti lupa bahwa orang yang dia bicarakan adalah kerabatnya sendiri yang kerap terhubung darah sangat dekat. Seperti saat kami mendengar ia berkata tentang meninggalnya seorang keponakan.

“Bunga bisa gugur sebelum mekar, tapi tetap saja bunga,” ucapnya waktu itu, “kalau sudah gugur, biarkan saja. Nanti akan ada kuncup baru.”

Baru delapan bulan kemudian keponakan itu meninggal bahkan sebelum lahir. Sepupuku keguguran di bulan keenam kehamilannya. Nenek sudah meramalkan kematian sebelum ada kelahiran, bahkan sebelum sepupuku itu menikah. Ketika ia mengatakan itu, kami semua tahu bahwa akan ada kematian lagi, namun lagi-lagi kami lupa sampai kematian itu benar-benar terjadi. Buatku ini mengerikan, namun aku juga tidak bisa mengingat untuk bersiap-siap atau paling tidak mengingatkan seseorang agar bersiap-siap menunda kematian. Ini yang paling masuk akal buatku. Bahwa, segala ucapan nenek adalah peringatan agar sesuatu bisa dibendung kedatangannya. Tapi, bisakah kematian dibendung?

“Nek, bagaimana nenek bisa tahu akan ada kematian?” tanyaku untuk menutup rasa penasaran.

“Nenek tidak tahu,” jawabnya.

“Tapi, nenek selalu mengucapkan sesuatu sebelum ada orang meninggal.”

“Mengucapkan apa?”

“Macam-macam.”

“Tidak. Nenek tidak pernah berucap apa-apa,” sanggahnya lagi.

Lalu aku menceritakan kejadian-kejadian yang lalu. Nenekku lagi-lagi cuma mengernyitkan bibirnya sambil menggeleng-geleng dan berkata, “Tidak. Nenek tak pernah mengucapkan itu semua.”

Aku diam. Apakah nenek sudah pikun?

“Nenek tidak sadar bahwa dia sudah mengucapkan itu semua,” bisikku pada sepupu-sepupu.

“Maksudmu, nenek kesurupan?”

“Hus! Jangan sembarangan!”

“Apakah kau ingat, apakah nenek pernah berkata sesuatu tentang kematian ibumu?”

Aku diam lagi, mencoba mengingat-ingat. Aku lupa. Aku tak ingat apa-apa. Lalu, sepupu terkecil berkata, “Nenek pernah bilang: ‘Maling bekerja dini hari, saat semua orang tertidur. Yang diambil adalah perhiasan keluarga paling berharga’ Diucapkan padamu.”

“Kau ingat?” tanyaku.

“Tiba-tiba saja ingat, Kak.”

Ibuku meninggal dini hari, dan dia perhiasan keluargaku. Aku mengingatnya dengan jelas. Membayangkan bahwa aku melupakan betapa berharganya sesuatu, sungguh bukan bayangan yang menyenangkan. Lagi-lagi aku teringat pada nenek yang gemar menanak nasi, menikmati harumnya sambil melupakan tanda-tanda yang diucapkannya sendiri

Udara dari pawon menembus ke ruang makan. Aku mencium bau nasi hampir tanak. Aku sangat ingin mengaduk nasi setengah matang lalu menuangkannya ke dalam kukusan. Tapi, ternyata semua nasi sudah diangkat. Mungkin, sisa-sisa bau saja, karena dari jauh kulihat nenek sudah duduk tenang di teras belakang.

“Apa kau bilang?” sepupuku bertanya.

“Aku tidak bilang apa-apa.”

“Kau baru saja bilang: ‘Akhirnya, nasi yang ditanak nyaris seratus tahun matang juga’. Nasi apa yang ditanak seratus tahun?”

Aku diam sambil berjalan ke teras di belakang dapur dan duduk di samping nenekku.

“Kau mau menanak nasi?” tanya nenek dengan suara pelan, “kalau sudah matang, jangan lupa diangkat. Waktunya selalu tepat.”

Aku menggeleng. Aku tak mau menggantikan nenek menanak nasi. Aku tak mau tua, pikun lalu lupa perihal tanda-tanda.

Keterangan:

Pawon: dapur.

Wisnu Sumarwan, bernama lengkap Wisnu Suryaning Adji Sumarwan. Lulusan Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta. Pernah jadi direktur program sebuah radio dan usahawan kuliner. Pemenang 1 Lomba Cerpen Nasional #MyCupOfStory 2016 Nulisbuku.com dan Giordano Indonesia. Peserta Workshop Cerpen Kompas 2016 dengan mentor Agus Noor, Linda Christanty, dan Putu Fajar Arcana. Cerpennya termuat dalam antologi cerpen Kelas Cerpen Kompas 2016 Cerita Para Perambah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ziarah Kepayang

Martin Aleida Lima puluh tahun…! Rentang waktu sepanjang itu tak membawa perubahan di sini. Jembatan yang terbuat dari kayu besi, masih tegak seperti yang kukenal setengah abad lalu. Hitam legam. Penduduk yang akan membawa hasil bumi ke kota, sejauh tujuh kilo, di muara sungai, tetap harus mengalah. Menunggu air sungai surut supaya sampan yang sarat bisa melintas di kolong jembatan. Jalan diapit sungai kecil, yang kami sebut bendar, tetap seperti ketika kulewati dulu. Jalan di mana orang-orang Tionghoa dari kota datang di musim berburu, dan pulang memanggul babi hutan yang masih berlumuran darah, hasil buruan yang ditinggalkan begitu saja oleh orang kampung yang mengharamkannya. Juga uangnya! Di jalan ini aku pernah terjerembab ditindih gerimis, mencium tanah, dalam perjalanan berkilo-kilo bersama Abang menuju pasar malam. Bau tanah liat di tapak kakiku masih seperti lima puluh tahun lalu. Aku menyeberangi titian. Berhenti, merenung di depan gundukan tanah. Kata Emak, seminggu...

Surat untuk Anak Perempuanku

TENNI PURWANTI Saat aku menulis surat ini, seorang istri di Bali sedang kesakitan karena kakinya ditebas dengan parang hingga putus oleh suaminya sendiri. Alasannya, hanya karena cemburu. Seorang perempuan lain di Tangerang menanggung malu karena ditelanjangi, dipukuli, dan dibawa berkeliling oleh warga akibat dituduh berbuat mesum dengan pasangannya sendiri. Perempuan 14 tahun di Kendari diperkosa bergilir oleh 14 laki-laki. Perempuan lain di Jakarta, dihujat karena keputusannya melepas jilbab. Tiba-tiba saja aku berpikir untuk menulis surat untukmu. Jika aku tak berumur panjang dan tak sempat melihatmu setelah kau lahir, setidaknya aku punya sesuatu yang bisa kuceritakan, melalui surat ini. Sebelumnya aku ingin menyampaikan bahwa aku bersyukur mengetahui bahwa bayi yang kukandung berjenis kelamin perempuan. Bertahun-tahun sebelum aku mengandungmu, teknologi sudah memungkinkan para orangtua mengetahui jenis kelamin anak mereka sebelum mereka lahir. Aku yang sejak dulu meng...

Slerok

Fandrik Ahmad Ia berpesan, jangan dikubur di tanah wakaf. Sebagaimana kata wakaf, siapa pun boleh dikubur di sana. Tak perlu merogoh kocek sekadar penebus sekotak lubang kematian. Tidak. Ia ingin berbaring di tanah sendiri. ”Tak ada yang lebih merdeka selain mati di atas tanah sendiri,” tukasnya. Namanya Pak Mat, tinggal di Slerok 1). Sebuah perkampungan di kaki Gunung Raung. Bagian dari Pegunungan Ijen. Pemisah dua kabupaten di ujung timur tanah Jawa: Jember dan Banyuwangi. Lelaki berkulit besi tua itu seorang petani rajin dan ulet. Mengembala ternak menjadi selingan pekerjaan. Saya sering mengambil bagian dari pekerjaan ini. Hampir pasti semua petani memiliki ternak. Terutama sapi. ”Aku selalu berdoa semoga anak cucuku dapat menggarap ladang dengan baik. Tetapi takdir berkehendak lain. Harapanku hanya ada pada Wulan. Dan Tuhan sudah mengambilnya,” tukasnya mengenang kepergian anak semata wayang. Penyuka semur keong besusul dan oseng pakis itu harus mengakhiri hayat di uju...